Home » Artikel » Mengelola Cemas di Era Ketidakpastian: 3 Kunci Ketenangan Hidup lewat Filosofi Teras

Mengelola Cemas di Era Ketidakpastian: 3 Kunci Ketenangan Hidup lewat Filosofi Teras

Uncak Kapuas 18 Feb 2026 38

UNCAKKAPUAS – Di tengah gempuran arus informasi media sosial dan dinamika global yang tidak menentu, isu kesehatan mental kini menjadi perhatian utama masyarakat. Banyak individu merasa tertekan oleh standar usia hingga kondisi sosial yang kian kompetitif. Menanggapi fenomena ini, konten kreator Akbar Abi membedah buku Filosofi Teras karya Henry Manampiring sebagai panduan praktis menjaga ketenangan batin.

Akbar Abi menekankan bahwa kebahagiaan bukanlah sekadar perasaan yang datang secara kebetulan, melainkan sebuah keterampilan (skill) yang harus dilatih secara sadar melalui pola pikir yang tepat. Berdasarkan ajaran Stoikisme, terdapat tiga poin utama untuk meraih ketenangan hidup di tengah ketidakpastian.

1. Memahami Dikotomi dan Trikotomi Kendali

Prinsip paling dasar dalam meraih ketenangan adalah memisahkan antara hal yang bisa dikendalikan dan yang berada di luar kendali. Fokus pada hal-hal yang tidak dapat diubah hanya akan membuang energi dan memicu stres.

• Hal yang dapat dikendalikan: Opini pribadi, persepsi terhadap masalah, keinginan, dan tindakan nyata yang kita lakukan sendiri.

• Hal di luar kendali: Tindakan orang lain, opini publik, cuaca, hingga latar belakang kondisi kelahiran.

Selain itu, terdapat konsep Trikotomi Kendali yang menitikberatkan pada hal-hal yang sebagian berada dalam kendali kita, seperti hasil pekerjaan atau kesehatan. “Kita belajar untuk bertanggung jawab penuh pada upaya yang bisa dilakukan tanpa menggantungkan ketenangan hidup pada hasil,” ungkap Akbar Abi dalam ulasannya.

2. Mengendalikan Emosi dengan Teknik STAR

Filosofi Stoa mengajarkan bahwa emosi negatif muncul bukan karena peristiwa itu sendiri, melainkan karena penilaian (judgment) subjektif kita terhadap peristiwa tersebut. Untuk melatih kendali emosi, diperkenalkan teknik STAR:

• Stop (Berhenti): Berhenti sejenak dan jangan langsung bereaksi secara impulsif saat emosi negatif muncul.

• Think & Assess (Pikirkan & Nilai): Lakukan penilaian secara objektif, apakah pemicu emosi tersebut berada dalam kendali Anda atau tidak.

• Respond (Tanggapi): Berikan respons yang bijak dan rasional setelah kondisi pikiran menjadi lebih tenang.

3. Amorfati: Mencintai Nasib dan Takdir

Konsep Amorfati mengajak seseorang untuk tidak hanya sekadar menerima, tetapi juga mencintai takdir yang sudah terjadi. Terus-menerus berandai-andai tentang masa lalu dianggap hanya akan mengikis kebahagiaan karena masa lalu bersifat tetap dan tidak dapat diubah.

“Masa lalu itu sudah mati semati-matinya. Mau kita terus mengingatnya, terus berandai-andai, enggak akan ada yang bisa diperbaiki,” tegas Akbar Abi. Dengan menerapkan Amorfati, seseorang akan lebih fokus mengambil pelajaran berharga dari setiap musibah daripada terus bertanya-tanya mengapa hal buruk menimpa dirinya.

Menerapkan filosofi kuno di zaman modern bukan berarti bersikap pasrah terhadap keadaan. Sebaliknya, ini adalah upaya melatih ketahanan mental agar tidak mudah terombang-ambing oleh hal-hal sepele. Dengan fokus pada upaya mandiri, hidup diharapkan menjadi lebih bijak, stabil, dan minim tekanan emosional.

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
Mulailah Jadi Investor: Panduan Bangun Aset dari Nol

Uncak Kapuas

24 Feb 2026

UNCAKKAPUAS – Banyak masyarakat merasa sudah bekerja keras dan hidup hemat, namun nilai kekayaan mereka terasa terus menyusut. Fenomena ini tidak lepas dari peran inflasi yang menggerus daya beli uang setiap tahunnya. Melansir kanal YouTube RUANG KAYA, solusi nyata untuk menghadapi hal ini adalah melalui investasi, bukan spekulasi. Investasi saham yang benar bukan sekadar memantau …

5 Hack Psikologi Menghilangkan Rasa Malu dan “Blank” Saat Bicara

Uncak Kapuas

24 Feb 2026

UNCAKKAPUAS – Banyak orang beranggapan bahwa rasa malu merupakan sifat bawaan lahir yang sulit diubah. Namun, secara ilmiah, rasa malu sebenarnya adalah mekanisme perlindungan diri yang kompleks. Melansir kanal YouTube Pertajam Pola Pikir, otak manusia cenderung menganggap ejekan atau penolakan sosial sebagai ancaman serius terhadap keselamatan. Hal inilah yang memicu jantung berdegup kencang dan kondisi …

Mengenal Karakter 7 Generasi: Dari Silent Gen hingga Gen Beta di Tahun 2026

Uncak Kapuas

21 Feb 2026

UNCAKKAPUAS – Pernahkah Anda merasa kesulitan membangun komunikasi yang selaras saat mengobrol dengan orang tua atau anak muda? Perbedaan sudut pandang ini sering kali berakar dari lingkungan tempat seseorang tumbuh besar. Melansir kanal Cukup Tau Singkat, faktor sosiologis dan perkembangan teknologi sangat memengaruhi pembentukan karakter setiap individu. Memasuki tahun 2026, peta usia dan posisi setiap …

Mengapa Puasa Malah Bikin Sakit? Hindari 7 Makanan Pemicu Tubuh Tumbang

Uncak Kapuas

20 Feb 2026

UNCAKKAPUAS – Keluhan seperti sakit kepala, perut mual, hingga jantung berdebar sering kali dialami oleh masyarakat saat menjalankan ibadah puasa. Namun, menurut pakar kesehatan Rosihan Hidayah, gangguan kesehatan tersebut umumnya bukan disebabkan oleh aktivitas puasanya, melainkan akibat pola makan yang keliru saat sahur dan berbuka. Kondisi tubuh yang kosong selama belasan jam membuat metabolisme menjadi …

Bukan Kurang Bakat, Ini Penyebab Belajar Berjam-jam Tapi Cepat Lupa

Uncak Kapuas

18 Feb 2026

UNCAKKAPUAS – Banyak orang merasa telah menghabiskan waktu berjam-jam untuk belajar, namun sering kali mendapati pikiran mendadak kosong atau blank saat menghadapi ujian. Fenomena ini kerap memicu rasa frustrasi dan rendah diri. Namun, kanal edukasi Misi Tuntas mengungkapkan bahwa masalah utamanya bukan pada kapasitas otak, melainkan pada metode belajar yang kurang tepat. Selama ini, metode …

Belajar Cepat ala Ibnu Sina: Rahasia Ilmuwan Abad ke-10 yang Relevan di Era Modern

Uncak Kapuas

18 Feb 2026

UNCAKKAPUAS – Kesulitan dalam menyerap informasi atau cepat melupakan materi yang baru saja dipelajari sering kali menjadi kendala bagi banyak orang. Namun, sejarah mencatat bahwa pada abad ke-10, seorang tokoh besar bernama Ibnu Sina telah mempraktikkan metode belajar yang membuatnya menjadi dokter ahli di usia 16 tahun. Melansir kanal edukasi KudutauID, teknik belajar sosok yang …

Hot Categories